Musim liburan sekolah segera berakhir. Saatnya mulai menyiapkan diri kembali ke sekolah. Namun, mengingat begitu panjangnya waktu liburan, tidak sedikit anak yang kurang bersemangat back to school. Lantas, apa yang harus dilakukan?
Liburan memang sangat dibutuhkan setiap orang. Termasuk siswa-siswi sekolah. Sebab liburan bertujuan mengistirahatkan fisik dan pikiran. Namun, karena terbawa suasana santai dan menyenangkan setelah liburan, banyak anak yang segan dan malas bersekolah serta belajar. Hal itu disebabkan beberapa hal. Di antaranya liburan sekolah berarti juga libur dari aktivitas belajar. Anak juga dibebaskan tidur hingga larut dan bangun siang. Tidak hanya itu, orang tua membebaskan putra-putrinya dari aktivitas belajar, diperbolehkan main dan nonton televisi sepuasnya.
Intinya, saat liburan, anak bebas dari tugas. Begitu pula orang tua. Mereka bebas mendampingi putra-putrinya berlibur. Begitu liburan berakhir, aktivitas yang menyenangkan juga harus berakhir. Nah, itulah yang membuat anak malas kembali ke sekolah dan belajar.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari “sindrom pasca liburan” tersebut. Salah satunya adalah menganggap bahwa liburan bukan berarti libur dari aktivitas belajar. Belajar tetap dilakukan, meski waktunya tidak sepanjang hari sekolah. Orang tua dan anak harus membuat kesepakatan waktu agar aktivitas belajar dapat terlaksana.
Jika orang tua mengajak belajar, tapi ternyata anak menolak dengan alasan sudah naik kelas, orang tua harus lebih kreatif. Setidaknya orang tua bisa mencari tahu kurikulum yang akan digunakan. Dengan demikian, mereka bisa mencari bukunya terlebih dahulu. Tidak harus sama dengan kurikulum yang akan digunakan. Orang tua juga bisa lebih kreatif mencari pengetahuan lain. Tidak ada ilmu yang sia-sia.
Selanjutnya, meski libur, anak harus tetap disiplin. Bangun tepat waktu atau melakukan aktivitas lain seperti sebelum libur. Namun, bila terlanjur terjadi, tidur larut dan bangun siang misalnya, orang tua harus kembali disiplin. Apalagi waktu masuk sekolah kurang seminggu lagi. Maka, pembelajaran disiplin bisa dimulai sejak sekarang. Jangan dimulai pada satu hari sebelum masuk sekolah. Anak akan tetap malas.
Selain itu bisa juga memberi kebebasan pada anak namun tetap ada aturan mainnya. Artinya, orang tua memberikan syarat tertentu yang bisa disepakati antara anak dan orang tua. Tujuannya, anak tidak kaget ketika mulai masuk sekolah. Orang tua sebaiknya mencari aktivitas yang menarik bagi anak, jangan sekedar nonton televisi melulu.
Yang tidak kalah penting, ketika orang tua mengajak putra-putrinya ke luar kota atau bepergian jauh sebaiknya waktunya disesuaikan. Jangan sampai tiba di rumah pada satu hari sebelum masuk sekolah. Selain secara fisik mereka sudah lelah, mental mereka belum siap untuk mulai belajar.
Tidak hanya bagi orang tua, para guru juga perlu memperhatikan. Ketika memberikan pelajaran, tidak harus yang membutuhkan konsentrasi terlalu dalam. Ajak anak bercerita dan buat mereka tertarik. Di sela-sela itu, tetap diberikan pertanyaan seputar pelajaran.
Beberapa solusi tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku bagi anak usia SD. Siswa SMP, SMA, atau bahkan mahasiswa dan mereka yang sudah bekerja bisa menerapkannya. Bedanya, anak-anak butuh bimbingan orang tua, sementara yang sudah dewasa bisa memotivasi diri sendiri.
Ditulis oleh muhammad najib 
Ditulis oleh muhammad najib